Menu

Mode Gelap
Ratusan ASN di Aceh Jaya Belum Terima Gaji Ulama dan Pj Bupati Aceh Jaya Bahas Penguatan Kemandirian Dayah Dua Oknum Anggota Polda Aceh Ditangkap, Ini Kasusnya Saat Proses Sortir, Panwaslih Aceh Jaya Temukan 137 Surat Suara Rusak Pemkab Aceh Jaya Buka Uji Kompetensi Pejabat Tinggi Pratama

Editorial · 24 Aug 2025 15:30 WIB ·

Lontong Calang 2025, Cukup Dibayar Sabar


 Ilustrator Adobe Perbesar

Ilustrator Adobe

Pagi itu di Calang, Minggu 24 Agustus 2025. Kedai lontong di pinggir jalan Calang dipenuhi aroma kuah santan yang kental. Di sebelahku ada sebuah meja kayu. Tiga perawat dengan pakaian dinas malam duduk, wajah mereka lelah, namun masih berusaha tersenyum.

Sebut saja Bunga. Ia menyendok lontongnya perlahan.

“Kalau aku pulang-pergi Lamno setiap hari, habis juga tenaga dan ongkos. Jadi aku pilih ngekos. Tapi ya begini, biaya hidup makin berat, gaji tak kunjung turun sejak bulan April. Mamakku sudah terpaksa ngirim uang,” ucap Bunga, yang baru dua bulan ngekos di Calang.

Rani, teman di sebelahnya, menghela napas panjang sambil menatap rekan-rekannya.

“Katanya bulan ini mau dirapel, tapi sudah tanggal 24 belum ada kabar. Malah ada yang bilang bulan sepuluh, bahkan bulan dua belas. Kita ini kerja di rumah sakit, tapi rasanya kayak magang. Dari kuliah sampai sekarang, magang terus.”

Wandi yang duduk di samping mereka ikut menimpali.

“Aku tiap hari bolak-balik dari Panga. Bayangkan, berapa banyak BBM yang harus keluar. Boros sekali. Kalau dihitung-hitung, ongkos jalan saja sudah lebih besar dari gaji yang katanya mau dirapel. Kadang aku pikir, mending tidak usah kerja kalau cuma dibayar dengan janji.”

Ketiganya terdiam sejenak. Hanya suara sendok yang mengetuk piring lontong, deru kendaraan berdesing di jalan, dan matahari pagi yang perlahan meninggi.

Di kedai sederhana itu, mereka bukan sekadar sarapan. Mereka sedang mengadu nasib, berbagi keluh kesah yang sama: bikin orang sehat kitanya malah sakit lucu ya. “mereka tertawa kecil”

Bekerja berbulan-bulan tanpa upah, hanya digantung dengan janji yang entah kapan ditepati.

Berapa banyak tenaga kerja bakti yang bernasib sama? Lebih dari enam puluh persen, mungkin. Antara sabar, pasrah, dan buntu—rasanya tipis sekali bedanya.

Dan di tengah hiruk pikuk Calang, suara mereka seakan tenggelam. Namun, tetap ada tanya yang menggantung:

“Kalau cerita ini memang nyata, pemerintah ke mana? Masak mereka tidak tahu? Pasti lagi siapin solusi, kan? Pasti sebentar lagi cair…” ucapku di dalam hati dengan penuh harap.

Catatan Nyak Nazar, Mantan Wapresma UIN Ar Raniry. Putra Asli Panton Makmur Krueng Sabee.

Artikel ini telah dibaca 651 kali

badge-check

Redaksi