Menu

Mode Gelap
Ratusan ASN di Aceh Jaya Belum Terima Gaji Ulama dan Pj Bupati Aceh Jaya Bahas Penguatan Kemandirian Dayah Dua Oknum Anggota Polda Aceh Ditangkap, Ini Kasusnya Saat Proses Sortir, Panwaslih Aceh Jaya Temukan 137 Surat Suara Rusak Pemkab Aceh Jaya Buka Uji Kompetensi Pejabat Tinggi Pratama

Kesehatan · 20 Sep 2025 07:48 WIB ·

Kepergian Khairunnisa usai Caesar Jadi Perbincangan Netizen, Keluarga Sesalkan Penanganan Medis yang Terkesan Tak Siap


 Kepergian Khairunnisa usai Caesar Jadi Perbincangan Netizen, Keluarga Sesalkan Penanganan Medis yang Terkesan Tak Siap Perbesar

Calang (AJP) – Khairunnisa binti Salbina, warga asal Banda Aceh yang selama ini menetap di Meulaboh, Aceh Barat, harus meregang nyawa dalam melahirkan anak keduanya.

Ia menghembuskan nafas terakhir pada Minggu, 7 September 2025 lalu siang, setelah sempat mendapatkan penanganan medis di beberapa rumah.

Pegawai di salah satu instansi ini diduga meninggal akibat pendarahan hebat setelah menjalani Sectio Caesarea (SC) atau yang lebih dikenal dengan operasi bersalin.

Kepergiannya viral di media sosial dan menjadi perbincangan netizen yang penuh pro-kontra. Banyak yang mendoakan, tak sedikit pula yang menghujat kinerja tenaga kesehatan di Aceh yang tak beres.

Salah satu komentar netizen menarik pun perhatian. Komentar itu menyebut adanya dugaan penanganan yang tak siap dan tidak sesuai komitmen dari pihak medis.

miris bgt dgr cerita tmn saya kebetulan suaminya dari almarhumah.. Tidak sesuai komitmen dan kesiapan di salah satu klinik Kab.Nagan Raya yg menyediakan Metode kelahiran terbaru (ILA),namun dikarenakan ketidaksiapan/ketidakhadiran Tenaga Anastesi, terpaksa di alihkan ke RS untuk tindakan SC, yg sangat di sesalkan penanganannya tidak maksimal sehingga harus di rujuk ke RSUDZA Banda Aceh dlm keadaan memprihatinkan.. alhamdulilahnya anak nya lahir dengan selamat namun allah berkehendak lain.. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi-NYA.. aamiin YA RABB ,” tulis akun @rider.rouser414.

Media ini mencoba untuk menggali informasi lebih dalam guna mengetahui apa yang terjadi, hingga terhubung dengan pihak keluarga yang tak lain suami almarhumah, M Ikhsan.

Pria yang akrab disapa Norik tersebut mengungkap kekecewaan sekaligus keresahannya yang mulai terlintas di pikiran, tepat setelah dua minggu kepergian sang istri tercinta.

Bermula saat Nisa hendak melahirkan anak keduanya pada Sabtu, 6 September 2025 lalu sekitar pukul 02.00 WIB. Dini hari itu mereka segera ke Klinik Nastia di Gampong Blang Muko, Kecamatan Kuala, Nagan Raya.

Klinik tersebut milik dr. Nasrul Wahdi, SpOG., dokter spesialis kandungan yang juga bertugas di RSUD Sultan Iskandar Muda. Ia selama ini menjadi dokter konsultasi kandungan mereka.

“Selama ini kami memang konsultasikan kandungan ke dia, bahkan kenapa saat itu kita ke klinik juga atas arahan dia kalau memang istri mengalami sakit,” ujarnya, Jumat, 19 September 2025.

“Termasuk tawaran metode lahiran terbaru bernama ILA (Intrathecal Labour Analgesia), ini semacam obat khusus yang dikasih ke pasien untuk bisa lahiran normal dan mengurangi rasa sakit yang luar biasa,” lanjutnya.

Jauh-jauh hari, Norik dan Nisa telah siap untuk melahirkan normal menggunakan metode ILA tersebut, meski sempat berkoordinasi ke beberapa klinik lain di Banda Aceh dan tak ada yang mengetahui pasti tentang metode ILA.

“Dari usia kandungan tujuh bulanan kita udah ke beberapa dokter atau bidan di Meulaboh atau Banda Aceh, semua saranin normal. Gak saranin SC sama sekali karena memang gak ada indikasi yg harus mewajibkan SC,” jelas dia.

“Bayi dalam kandungan sehat, ibu pun sehat, makanya kita yakin normal pakek metode ILA yang ada di Klinik Nastia Nagan Raya walau harus bayar lebih mahal (meski belum dibayar saat itu), daripada harus SC yg gratis,” lanjutnya.

Akan tetapi, pihak medis di klinik itu terkesan lamban menangani Nisa yang hendak lahiran. Bahkan, tidak adanya dokter di klinik baru diberitahu sekitar dua jam setelah menunggu.

“Alasannya dokter sedang di luar, ada juga dokter yang gak punya alat, ini kan lucu kayak gak siap. Waktu koordinasi dengan dokter NW via telepon, yang bersangkutan memang ada nyaranin untuk lahiran di Banda Aceh aja, tapi mengingat jarak yang cukup jauh sementara istri kesakitan ya kita milih yang cukup bijak, akhirnya dibilang SC saja,” ungkapnya.

Dengan rasa panik dan bingung, Norik harus mengiyakan apa yang dikatakan oleh dokter sebagai orang yang lebih ahli. Nisa lalu dibawa ke RSUD SIM untuk menjalani SC yang juga ikut ditangani langsung oleh dr. Nasrul.

Operasi berjalan lancar dan sang bayi lahir selamat. Namun, tim dokter yang menangani memberitahukan adanya gangguan pada organ pasien, seperti harus diangkatnya rahim dan rusaknya jaringan pada tubuh.

“Saat itu gak bisa mikir, intinya kita minta lakukan yang terbaik untuk istri. Rahimnya diangkat sebagian, jaringan rusak, pasca penanganan tim dokter bilang harus dirujuk ke RSUDZA karena gak bisa ditangani lagi di situ,” beber dia.

Setelah rujukan diterima sekitar pukul 16.00 WIB, Nisa dan keluarga berangkat ke RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh melanjutkan proses SC pengangkatan sisa rahim. Bahkan dalam perjalanan, ia sempat tak sadarkan diri tanpa nafas.

“Almarhumah tidak sadar, nafas gak ada, di mesin itu (terlihat) garis datar semua. Sampai di Lhok Kruet, Aceh Jaya, kami singgah ke puskesmas untuk penanganan darurat CPR, setelah sadar segera lanjut ke Banda Aceh,” katanya.

Singkat cerita pasien pun tiba di RSUD Zainoel Abidin malam hari. Nisa baru dapat menjalani operasi pengangkatan sisa rahim selanjutnya pukul 22.00 WIB. Pasca operasi, ia sempat dirawat 12 jam di ICU yang akhirnya meninggal dunia.

Norik beserta keluarga harus berlapang dada menerima kepergian orang terkasihnya. Akan tetapi yang disesalkan adalah lambannya penanganan sejak awal, khususnya saat masih berada di klinik dan rumah sakit sebelumnya.

“Ini yang buat kesal, mereka yang ngasih opsi tapi malah mereka yang lamban dan gak siap. Padahal kita bayar, terkesan tidak profesional kerjanya. Rumah sakit di sana pun fasilitasnya tidak layak, AC gak dingin, ruangan gak layak, kacau pokoknya,” ucap dia menggerutu.

Yang lebih mengherankan, sambung Norik, hingga saat ini dokter Nasrul sendiri tak pernah berkomunikasi lagi dengan pihak keluarga, khususnya pasca peristiwa itu, meski sekadar mengucapkan belasungkawa.

“Saya merasa kok kayaknya gak ada beban moril dari seorang dokter, kayak gak terjadi apa-apa. Sampai sekarang gak komunikasi, ini kemarin baru sepuluh hari almarhumah, pihak perwakilan RSUDZA aja datang ngelayat ke rumah, sampaikan dukacita dan silaturahmi,” sebutnya.

Di sisi lain, pria lulusan Timur Tengah ini juga berharap agar ke depan perangkat kesehatan di Aceh lebih sigap dalam menangani segala suatu permasalahan yang serius agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Memang ajal udah ada yang atur, tapi tenaga medis setidaknya lebih siap dan prepare untuk menghadapi segala situasi, khususnya saat darurat. Kita harap semoga tidak ada lagi kinerja dari rumah sakit atau sejenisnya yang tidak beres di Aceh ini,” tambahnya.

Sementara itu, dokter Nasrul yang dikonfirmasi secara terpisah memberikan tanggapannya. Ia menjelaskan bahwa penyebab meninggalnya pasien Nisa karena pendarahan.

“Wss.sementara belum. Penyebabnya hpp atau perdarahan post partum.. kita sudah berusaha maksimal… Di tingkat RS… Karena stock darah yang tersedia terbatas .. maka pasien kita rujuk. Waktu itu karena stok darah terbatas… dari perawat tim kamar op juga ikut menyumbangkan darah,” ungkapnya via pesan WhatsApp.

Saat ditanya lebih lanjut mengenai faktor apa yang menjadi pemicu terjadinya pendarahan, termasuk metode ILA yang hendak diterapkan serta yang lainnya, begini kata sang dokter lebih lanjut.

“Untuk hpp ini faktor pasti belum tau.. tapi bisa berkaitan dengan jaringan rahim yang lunak atau rapuh, Bisa juga faktor darah. Karena setiap jahitan yang dilakukan terjadi rembesan,” katanya.

“Untuk metode ini (ILA) sebenarnya ada dokter anestesi yang khusus… Kebetulan hari itu ada yang pelatihan dan yang satunya ada yang berhalangan sehingga kita katakan tidak bisa dilakukan. Diklinik sudah diperiksa dan sempat disarankan apa lahiran di Banda saja Untuk kelahiran normal nya,” jelas dia.

Secara umum, Nasrul mengaku bahwa pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin serta telah melakukan upaya terbaik untuk menangani sang pasien.

Artikel ini telah dibaca 127 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pengamanan Obvitnas dan Jalur Pipa di Fuel Terminal Medan

6 February 2026 - 12:33 WIB

Nazaruddin Dek Gam Tunjuk Jaya Hartono Tangani Persiraja

4 February 2026 - 08:22 WIB

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Ragam Program MyPertamina 2026, Apresiasi Ojol hingga Promo Hemat bagi Konsumen

4 February 2026 - 04:43 WIB

Polri di Bawah Presiden Sesuai Amanat Reformasi, Tak Boleh Dikuasai Orang Lain

29 January 2026 - 10:12 WIB

Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum

27 January 2026 - 03:54 WIB

Polres Aceh Besar Kembali Musnahkan Ladang Ganja, Satu Orang Ditangkap

24 January 2026 - 12:16 WIB

Trending di Hukum