Abdya (AJP) – Program Makan Bergizi Gratis MBG tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Melalui sistem Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG yang terorganisir, program ini memiliki potensi besar menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Mulai dari membuka pasar bagi petani lokal, menghidupkan UMKM, hingga menyerap tenaga kerja di daerah.
Hal tersebut disampaikan PIC SPPG Pante Cermin 2 Babahrot, Reval Adrian Maulana. Menurutnya, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari makanan yang sampai ke anak-anak saja, tetapi juga dari efek ekonomi yang ditimbulkan.
“Di balik satu porsi makanan MBG, ada petani yang memproduksi bahan pangan, ada pedagang dan UMKM yang memasok kebutuhan, ada tenaga kerja yang mengolah makanan, ada pengemudi yang mendistribusikan, dan ada masyarakat yang mendapatkan penghasilan. Jadi MBG mempunyai efek berganda yang sangat besar,” ujar Reval Adrian Maulana, Kamis (10/9).
Kantin Sekolah Bukan Solusi Utama
Terkait wacana menjadikan kantin sekolah sebagai tempat produksi MBG, Reval menilai gagasan itu perlu dikaji matang. Pasalnya, fasilitas setiap sekolah berbeda dan belum tentu siap untuk produksi makanan dalam jumlah besar.
“Kantin sekolah bukan solusi utama untuk produksi MBG. Kita harus melihat kesiapan fasilitasnya. Produksi makanan dalam jumlah besar membutuhkan dapur yang memadai, tempat penyimpanan bahan baku, fasilitas pencucian, sanitasi, pengelolaan limbah, serta sistem kerja yang teratur,” jelasnya.
Reval khawatir jika dipaksakan di sekolah justru akan menimbulkan masalah baru. Beban sekolah bertambah mulai dari pengelolaan dapur, kebersihan, tenaga kerja, hingga pengaturan produksi.
“Jangan sampai kita ingin menyelesaikan satu persoalan, tetapi kemudian muncul persoalan baru di sekolah. Sekolah memiliki tugas utama untuk mendidik anak-anak. Karena itu, kita harus memastikan pelaksanaan MBG tidak mengganggu aktivitas pendidikan,” tegasnya.
SPPG Lebih Efektif untuk Produksi Terpusat
Menurut Reval, sistem SPPG jauh lebih efektif karena seluruh proses mulai dari pengadaan bahan, penyimpanan, memasak, pengemasan, hingga distribusi dikelola dalam satu sistem terpusat.
“Kalau produksinya dilakukan di tempat yang memang dipersiapkan untuk produksi makanan dalam jumlah besar, pengawasannya akan lebih mudah. Sekolah menerima makanan yang sudah diproses sesuai standar, sementara sekolah dapat tetap fokus menjalankan fungsi pendidikannya,” ujarnya.
Dengan sistem ini, pengawasan terhadap kualitas bahan pangan, kebersihan, dan keamanan makanan juga lebih konsisten.
Buka Pasar untuk Petani Lokal
Salah satu dampak paling besar dari sistem SPPG adalah terbukanya pasar bagi petani lokal. Kebutuhan bahan pangan MBG yang rutin bisa menyerap hasil pertanian masyarakat seperti sayur, beras, telur, ikan, dan buah-buahan.
“Kalau kebutuhan MBG dapat dipenuhi dari petani lokal, maka uang yang berputar akan kembali ke masyarakat daerah. Petani punya pasar, produksi meningkat, dan ekonomi masyarakat ikut bergerak,” kata Reval.
UMKM dan Lapangan Kerja Ikut Bergerak
Selain petani, UMKM juga punya ruang besar dalam rantai MBG. Mulai dari pemasok bahan pendukung hingga jasa, semua bisa dilibatkan.
“UMKM jangan hanya menjadi penonton. Mereka harus mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, tentunya dengan tetap memenuhi standar kualitas, harga, kontinuitas dan mekanisme yang berlaku,” tambahnya.
Operasional SPPG juga menyerap banyak tenaga kerja. Mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, memasak, pengemasan, kebersihan, administrasi, hingga distribusi.
“Setiap hari ada proses yang panjang sebelum makanan sampai ke tangan anak-anak. Semua proses itu membutuhkan tenaga manusia. Karena itu, MBG juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” ungkap Reval.
MBG Harus Beri Efek Berganda
Reval berharap MBG ke depan dikembangkan dengan 3 prinsip utama: pemenuhan gizi anak, efektivitas pelaksanaan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Yang kita inginkan sederhana: anak-anak mendapatkan makanan bergizi dan aman, sekolah tidak terbebani, petani mendapatkan pasar, UMKM mendapatkan peluang, dan masyarakat mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.
“MBG jangan hanya dilihat sebagai makanan gratis. Di dalamnya ada peluang besar untuk membangun ekonomi masyarakat. Ada petani yang kita berdayakan, ada UMKM yang kita hidupkan, ada tenaga kerja yang kita serap, dan yang paling utama ada generasi muda yang kita siapkan agar lebih sehat dan berkualitas.”
“Karena itu, kantin sekolah bukan solusi utama. Kita harus membangun sistem yang benar-benar siap, profesional, efisien, aman, dan memberikan manfaat yang luas. SPPG dapat menjadi pusat dari ekosistem tersebut dengan tetap melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi lokal,” tutupnya.






















































