Menu

Mode Gelap
Ratusan ASN di Aceh Jaya Belum Terima Gaji Ulama dan Pj Bupati Aceh Jaya Bahas Penguatan Kemandirian Dayah Dua Oknum Anggota Polda Aceh Ditangkap, Ini Kasusnya Saat Proses Sortir, Panwaslih Aceh Jaya Temukan 137 Surat Suara Rusak Pemkab Aceh Jaya Buka Uji Kompetensi Pejabat Tinggi Pratama

News · 4 Oct 2025 09:01 WIB ·

Irjen Pol Marzuki Ali Basyah: Waktunya Membangun Aceh, Disharmoni No!


 Irjen Pol Marzuki Ali Basyah: Waktunya Membangun Aceh, Disharmoni No! Perbesar

Banda Aceh (AJP) – Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengajak semua kalangan menyebarkan aura positif untuk Aceh. Menurutnya, saat ini bukan waktunya membahas disharmoni ataupun disintegrasi, namun lebih kepada membangun Tanah Rencong.

“Sudah bukan waktunya lagi membahas disharmoni ataupun disintegrasi, sekarang waktunya membangun,” ujar Kapolda di Banda Aceh, Sabtu, 4 Oktober 2025.

Lebih tepatnya, sambung jenderal bintang dua tersebut, rakyat Aceh perlu memperkuat harmonisasi. “Menciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dari berbagai elemen yang berbeda agar dapat berjalan Bersama,” ucapnya.

Marzuki menjelaskan, upaya menciptakan hubungan yang baik dan serasi dalam masyarakat yang beragam adalah untuk mencapai kehidupan masyarakat yang damai, sejahtera dan saling menghormati. Tentu saja, ia menekankan pentingnya kolaborasi Pentahelix di Aceh.

“Model kolaborasi inovatif yang melibatkan lima elemen utama, yaitu pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media untuk mencapai tujuan bersama, dalam konteks Aceh adalah untuk membangun kesejahteraan Aceh,” jelasnya.

“Rasulullah SAW sudah memberi teladan bagaimana membangun Madinah yang kemudian kita mengenalnya sebagain konsep kota Madani. Itu adalah konsep yang sangat harmoni, dan membangun sebuah peradaban yang mulia,” kata Marzuki.

Di Aceh, harmonisasi diterapkan oleh Sultan Iskanda Muda yang memerintah dari tahun 1607-1636. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan menjadi kerajaan terluas dan terkaya di kawasan Selat Malaka serta sebagian besar wilayah barat Nusantara.

Salah satu jejak peninggalan harmonisasi era Sultan Iskandar Muda, lanjut putra Aceh asal Tangsel, Kabupaten Pidie ini, adalah Peunayong (yang sekarang dikenal sebagai Pecinan Aceh).

“Peunayong inilah simbol aman dan nyaman bagi tamu luar negeri yang datang ke Aceh. Sultan menjamu tamu di Peunayong. Aceh menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai,” sebutnya.

Sultan juga menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan berbagai bangsa asing, yang membuat Aceh dikenal sebagai negeri yang kaya raya.

“Aceh menjadi pusat pembelajaran Islam, menetapkan qanun yang adil dan melaksanakannya dengan tegas,” katanya.

Oleh karena itu, penerapan harmonisasi yang pernah dilakukan Sultan membuktikan kejayaan Aceh, bahkan meusyuhu sampai sekarang.

Arti penting harmonisasi ini adalah untuk menciptakan persatuan, mengurangi konflik, membangun masyarakat yang inklusif, dan meningkatkan efesiensi.

“Dengan demikian investasi akan masuk, pabrik-pabrik terbangun, dan ekonomi meningkat. Kemiskinan dan pengangguran berkurang,” tambahnya.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pemuda Ini Dicokok Polisi usai Gelapkan Motor Gebetan Baru

26 August 2026 - 02:32 WIB

Gelapkan Uang Puluhan Juta, Pemuda Ini Masuk Bui

24 August 2026 - 04:16 WIB

Mahasiswa USK asal Aceh Singkil Ditemukan Tergantung di Asrama

24 August 2026 - 00:55 WIB

Ketua Baitul Mal Pidie Jaya Meninggal dalam Rumah, Diduga Sakit Jantung

23 August 2026 - 10:29 WIB

Polresta Banda Aceh Amankan Dua Pelaku Perampasan Sepeda Motor

23 August 2026 - 07:04 WIB

Pelaku Pelecehan Anak di Banda Aceh Serahkan Diri ke Polisi

22 August 2026 - 05:21 WIB

Trending di Hukum