Menu

Mode Gelap
Ratusan ASN di Aceh Jaya Belum Terima Gaji Ulama dan Pj Bupati Aceh Jaya Bahas Penguatan Kemandirian Dayah Dua Oknum Anggota Polda Aceh Ditangkap, Ini Kasusnya Saat Proses Sortir, Panwaslih Aceh Jaya Temukan 137 Surat Suara Rusak Pemkab Aceh Jaya Buka Uji Kompetensi Pejabat Tinggi Pratama

Artikel · 25 Oct 2024 17:04 WIB ·

Pilkada dan Intelijen (Membaca Mode Partai Aceh dan Gerinda)


 Pilkada dan Intelijen (Membaca Mode Partai Aceh dan Gerinda) Perbesar

Aceh Jaya (AJP) – Intelijen dan politik adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Politik adalah ilmu atau cara mendapatkan kekuasaan, merebut atau mempertahankan kekuasaan, membagi kekuasaan dan menjalankannya, sedangkan intelijen merupakan serangkaian kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencapai dan merebut kekuasaan itu sendiri.

Intelijen dapat dimaknai menjadi enam hal: sebagai sebuah informasi, pengetahuan, proses, kegiatan, organisasi maupun profesi. Sebagai sebuah informasi yang akurat, sesuatu yang dilaporkan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai sebuah pengetahuan, intelijen dapat menjadi sebuah kajian yang dipelajari secara formal dengan berbagai pendalaman materi, jelas secara ontologi, epistemologi, dan aksiologinya.

Sebagai sebuah proses, intelijen mempunyai tahapan atau roda perputaran (cycle of Intelligence) dari penerimaan instruksi atau perintah, pengumpulan informasi, seleksi data, analisis, pelaporan, dan evaluasi.

Sebagai sebuah kegiatan, intelijen dapat menjadi aktivitas penelitian, spionase, penyamaran, kontra dan operasi intelijen. Profesi intelijen secara garis besar dapat menjadi agen lapangan dan analis intelijen.

Aktivitas intelijen sebetulnya dapat ditelusuri melalui sejarah pergantian kekuasaan baik sejak zaman kerajaan maupun di berbagai negara. Intelijen bahkan sangat menentukan pertempuran dan peperangan.

Dalam kancah Pilkada Aceh, jelas dapat kita baca, yang memiliki potensi pengunaan metode intelijen adalah Partai Gerinda dan Partai Aceh.

Karena jelas kedua partai ini memiliki kekuatan di maksud, sama-sama pernah mengelola lembaga Ketentaraan. Dimana kedua partai ini di pimpin oleh Mantan tentara yang memimpin perang. Kita tahu, partai Gerindra dan PA adalah partai yang bersifat komando.

Maka, secara otomatis mareka dapat mengirim sinyalir mengirim orang terbaiknya ke kubu lawan sehingga seluruh data penting akan bocor. Nama juga Intel, meski nyawanya sebentar lagi melayang, namun tidak pernah mengakui bahwa dia itu adalah Intel.

Orang aceh, pasti sudah sangat paham kondisi ini. Zaman konflik Aceh, Intel TNI bisa bersama warga Beutong bertahun-tahun. Sampai pada akhirnya semua informasi gerakan Aceh merdeka dapat diserap.

Begitu juga semisal Intel GAM Irwandi Yusuf, yang bisa bermain di kota, mengajar di fakultas kedokteran hewan dan bisa berkomunikasi dengan berbagai pihak di luar negeri. Padahal beliau salah satu pentolan gerakan Aceh merdeka.

Belajar dari semua pengalaman itu, Maka saran kami, berhati-hatilah kursi wahai para kandidat….!!!Begitulah…!!!

 

Penulis adalah Alumni HMI dan mantan Ketua KNPI Aceh Jaya Maimun Panga

Artikel ini telah dibaca 58 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tikam Pengendara Pakai Badik, Pria Ini Diamankan Polisi

19 August 2026 - 11:14 WIB

Persiraja Jalani Pemusatan Latihan dan Uji Tanding di Negeri Jiran

19 August 2026 - 05:51 WIB

Masyarakat Pertanyakan Kembali Izin Tambang: Sudahkah Beutong Ateuh Pulih dari Bencana?

19 August 2026 - 02:56 WIB

Pejabat Inspektorat Banda Aceh dan Mahasiswa Jadi Tersangka Kasus Hubungan Sesama Jenis

18 August 2026 - 06:23 WIB

Kasat Resnarkoba Polresta Banda Aceh Berganti, Kini Dijabat Kompol Fandi Ba’u

18 August 2026 - 06:20 WIB

KSAD Dukung Polri Tegakkan Hukum Usai Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Aceh

18 August 2026 - 01:55 WIB

Trending di Hukum